Pekarangan rumah doni terlihat begitu
kotor dengan daun kering berserak dimana-mana. Dengan sebatang sapu lidi doni
mulai membersihkan pekarangannya. Terdengar suara ribut-ribut dari arah depan
rumahnya. Dilihatnya ke arah itu ternya ada orang yang lagi pindahan. Sekilas Doni
melihat cewe seumuran dia sedang mengangkati barang-barang. Tanpa sengaja mata
cewe itu bertemu dengan mata doni. Cewe itu terlihat cantik di mata doni. Karena
rasa penasarannya, doni sering duduk di depan rumah. Jika ada temannya yang
lewat depan rumah pasti ditanyai tentang siapa yang baru pindah kerumah itu.
Teman temannya heran karena tidak biasanya doni memunculkan batang hidungnya
kecuali saat pergi dan pulang sekolah. Tinggal satu temannya yang belum lewat
di depan rumah doni semenjak doni sering di depan rumah. nanda namanya, teman
satu sekolah doni tetapi beda kelas. Tinggalnya satu blok dengan rumah doni
tetapi dia di ujung sedangkan doni di tengah. Seperti hari-hari sebelumnya sore
itu doni duduk di teras rumahnya sambil
memerhatikan rumah baru itu. Secara mengejutkan dilihatnya nanda sedang
berjalan dari arah kedai menuju rumahnya. Entah kapan nanda kekedai itu tidak dipikirkan
doni. dia langsung menghentikannya.
“woi
nanda dari mana lo?” dengan sedikit berteriak doni memanggil nanda yang baru lewat di depan
rumahnya.
“dari
kedai disuruh beli ini tadi sama mamaku.” Jawab nanda sambil menunjukkan bawaan
yang di pegangnya.
“Ada
kerjaan lo abis tu?”tanya doni.
“gak
ada, emank kenapa?” nanda heran gak biasanya doni bertanya seperti itu.
“yang
pindah ke rumah itu siapa, lu tau?”tanya doni sambil menunjuk rumah yang baru
ditempati itu.
“oh
itu, bentar ya aku ngantar ini dulu. Ntar aku ke situ.” Jawab nanda yang
langsung pulang kerumahnya.
“ok
lah nan” doni tersenyum kecil.
Doni berfikir kalau sudah gitu pasti
si nanda tau tu siapa. Soalnya temen-temenya yang ditanya nya pasti langsung
bilang gak tau.
Sambil nunggu nanda, doni terus melihat
rumah yang baru di tempati itu berharap cewe yang kemarin di lihatnya keluar.
Ternyata cewe itu tidak keluar juga. Beberapa menit setelah itu nanda datang
sambil senyum-senyum yang memiliki makna tersembunyi. Seakan tau maksud doni
bertanya seperti tadi.
“samlekom”
sambil tersenyum nanda datang.
“komsalam,
napa lu senyum-senyum” doni merasa temannya yang satu ini aneh.
“biasa
ajalah, suka-suka gua dong”
“
taunya lu siapa itu?”
“siapa?
Yang mana?” nanda malah pura-pura lugu.
“itu
loh keluarga yang baru pindah kesitu, dah gua bilang pun tadi” tanya doni
sambil menunjuk rumah yang baru ditempati itu.
“keluarga
itu apa cewe itu?” tanya nanda yang sengaja ngerjain doni.
“maksud
lu?”doni tidak mengerti maksud nanda.
“ala
pura – pura lugu lu, bilang aja lu mau nanya cewe yang ada di situ kan”nanda
masih saja menggarai doni.
“loh
ko lu tau ada cewe di rumah itu?” doni merasa lw udah kedahulu sama nanda.
“ya
tau lah itukan sepupu gua”jawab nanda.
“syukurlah…”
doni keceplosan.
“ha..apa?
naksir lu ya? Pantesan lah belakangan ini lu sering duduk di depan rumah
biasanya gak pernah nampak” ejek nanda.
Nanda
merasa kalau temannya yang satu ini suka sama sepupunya itu. karena biasanya lw
sore-sore gini doni ga pernah nampak selalu di dalam rumah bantu orang tuanya
atau main game. Tidak seperti beberapa hari
ini dia selalu ada di depan rumahnya saat sore hari.
“ah
gak lah, gua kan pengen ngelihat matahari terbenam” doni mencoba mengelak mencari
alasan yang tak masuk akal.
“di
laut lo lw mau ngelihat sunset, tuh muka lu dah berubah.”nanda semangkin tau doni.
“serius
lu?”
“mau
gua kenalin”
“boleh”
“enak
aja, kenalan lah sendiri”nanda malah ngelak.
“macam
mana mau kenalan gua aja ga pernah lagi ngeliat cewe itu.”
“ya
ia lah dia kan masih tinggal di tepat neneknya belum mau dia tingal sini,
mungkin il fill dia ngeliat muka lo.”ejek nanda.
“enak
aja lu, lu kira gua hantu apa. Lu tu yang hantu” gerutuk doni yang gak senang
di ejeki nanda.
“jadi
gimana ne?” doni kembali meminta saran ke nanda.
Cukup lama mereka berdiam diri dengan
mata kekanan-kekiri mencoba mencari cara agar doni bisa berkenalan dengan nya. Lalu
tiba tiba nanda mengejutkan doni.
“aha…”
bola lampu pijar tiba-tiba nyala di atas kepala nanda sepertinya dia
mendapatkan ide.
Terdengar
suara ibunya doni dari dalam rumah.
“adek
jangan main – main saklar” ibu doni meneriaki adik bungsu doni.
“ada
apa nan, dapet ide lu ??” tanya doni.
“gua
baru teringat, kata adik gua besok dia mau kesini, jadi kita tunggu aja di
simpang sepulang sekolah. Ntar kita pura-pura ga sengaja ketemu, baru deh gua
kenalin lo. Gimana, pinterkan gua.” Nanda mencoba menjelaskan rencana ke doni
dengan cara berbisik.
“
gak nyangka gua, bisa juga lu mikir kayak gitu..” sambung doni yang gak nyangka
nanda bisa mikir sejauh itu.
“
ya gua, besok gua tunggu lo di gerbang sekolah jadi jangan pulang lewat
belakang lu ya. Suka amat pulang cepet.” Perintah nanda.
Doni
emang kalau pulang sekolah lewat belakang. Jalan belakang itu adalah jalan
pintas menuju rumah doni.
“ia…ia, tenang aja lu gua tunggu pun lw lu gak
nampak” doni mencoba menyakinkan nanda.
“yaudah
gua balik dulu ya, udah mau magrib ne ntar dimarai mama ku pula aku.” Kata
nanda.
Lalu nanda pulang kerumahnya. Dengan
perasaan lega doni memasuki rumahnya. Dia duduk diruang tamu sambil berfikir
apa yang harus dilakukan dan dikatakannya kalau besok dia bertemu dan
dikenalkan sama cewe itu. Maklum saja selama ini doni belum pernah ngomong
langsung dengan wanita yang belum dikenalnya. Begitu terus dia sampai makan
malam. Setelah makan malam bersama keluarganya dia kembali melanjutkan apa yang
dipikirkannya tadi di kamarnya sampai dia tertidur.
***
Pagi itu doni bangun agak cepat. Mungkin
karena dia terlalu memikirkan perjumpaanya dengan cewe baru itu. Di sekolah pun
dia kembali seperti dulu hanya diam, berpikir dan malas untuk diajak ngobrol
apa lagi keluar. Dia masih memikirkan apa yang harus dilakukannya agar dia
tidak tampak konyol di depan cewe itu. Evan dan budi udah mencoba mengajak doni
bermain tetapi doni menolaknya memilih tinggal di ruangan kelas. Jadi mereka
pun pergi meninggalkan doni.
Beberapa menit sebelum lonceng teman-teman
doni kembali memasuki kelas. Sepupunya doni datang kearah doni lalu memukul
pundaknya.
“hayo……
diem aja semenjak masuk kelas tadi dek” sofi mengagetkan doni.
“astaga..mbak
ini lo” jawab doni yang terkejut.
“mikirin
apa si dek?”
“ga
ada mbak..”
“ah
yang bener…?”
“ga
ada loh mbak, serius deh”
“ia…ia
hati-hati dek bengong aja ntar kesambet”
Lalu
sofi pergi ke tempat duduknya merasa ada yang sedang dipikirkan doni. Lonceng pun
berbunyi dan dalam hitungan detik semua siswa sudah di dalam kelas yang menjadi
ribut karena gurunya belum datang.
Setiap lonceng pergantian les
jantung doni semangkin cepat memompa darah. Sampai akhrinya lonceng pulang
sekolah pun berbunyi. Jantung doni seperti berhenti berdetak. Doni perfikir
untuk tidak menemui cewe itu tetapi ada di dalam diri doni yang seakan akan memberinya
semangat untuk menemuinya.
“aku
harus bisa” itulah yang ada dipikiran doni.
Tidak seperti biasa yang kalau
pulang sekolah dia melalui pintu belakang dan berjalan sendirian. Kali ini dia
langsung menuju gerbang sekolah. Sesampainya di gerbang dia tidak melihat ada
tanda-tanda nanda sudah disitu. Dia berdiri tepat di depan gerbang sambil
bersiul menghayal. Tak lama setelah itu budi dan evan juga keluar kelas dan
melihat doni sedang menghayal di depan pagar. Budi yang memang suka ngejahili
doni datang diam-diam menghampiri doni bermaksud ngejutkan doni.
“woi”
kejut doni sambil memukul pundak doni.
Doni
pun terkejut dan hampir mengeluarkan kata kotor
“anji..
lu” kata doni, spontan dia langsung menutup mulutnya.
“setan
lah lu bud, law copot jantung gua tadi, susah gua masangnya lagi.” Sambung doni
memarahi budi.
“maaf..,abisnya
lu menghayal kok di keramaian.” Jawab doni sambil tertawa kecil.
“ia
ngapai lu disini? Biasanya lewat jalan belakang lo.” Tanya evan yang masih gak
ngerti kenapa doni akhir-akhir ini aneh.
“bukan
urusan lu kali….mau gua lewat sini, lewat sana serah gua lah. pulang lu sana?” bantah
doni dan mencoba ngelak dari temannya itu.
“okelah…
yuk bud, biar aja dia disini. Lama-lama disini ikut gila pula kita.” Ajak evan
ke budi.
Evan dan budi pun langsung pergi
meninggalkan doni dengan lamunannya. Doni yang masih menunggu bersyukur karena
tidak dicurigai temannya itu. Waktu terus berganti dan gerbang yang tadinya
ramai dilewati siswa yang pulang sudah terlihat sunyi hanya doni saja yang
terlhat berdiri bersandar di pagar sekolah. Setelah cukup lama menunggu
akhirnya nanda datang bersama dengan empat orang temannya.
“kalian
duluan aja” kata doni menyuruh empat orang temannya pulang duluan.
Temannya
pun pulang meninggalkan mereka berdua.
“kemana
aja lo? Katanya nunggui taunya gua yang nunggui” tanya doni yang agak kesal
kelamaan nunggui.
“sory
don, tadi gua nyapu kelas, lupa gua ngasih tau kemarin” nanda mencoba
menjelaskan.
“sudalah
ayo kita pergi” pintah doni dan langsung berjalan ke arah simpang yang
direncanakan.
“buru-buru
amat lo” jawab nanda yang langsung lari ke samping doni.
Doni tak menjawabnya hanya jalan
saja. Sepanjang jalan doni hanya diam merasa grogi namun di tutupinya dengan
sifat kesantaianya. Sesampainya disimpang itu doni mencari tempat duduk yang
nyaman. Sedangkan nanda membeli es cendol di sekitaran daerah tersebut. Setelah
membeli es cendol nanda kembali menemui doni sambil memberikan sebungkus cendol
yang dibelinya.
“baik
amat lo” kata doni sambil menerima es tersebut.
“enak
aj, sini seribu” kata nanda sambil menadahkan tangan.
“gua
kira lo kasih gratis” jawab doni.
“enak
aja, lw ga mau ya udah sini cendolnya” pintah nanda kembali.
“ia…ia..
ini nah.” Jawab doni sambil memberikan uang seribu ke nanda.
Setelah itu mereka menunggu cewe itu
di tempat itu sambil minum es cendol. Tidak lama mereka nunggu bahkan es cendol
pun masih setengah. Dilihatnya angkot berhenti di dekat simpang dan menurunkan
dua anak cewe. Yang ternyata itu adalah cewe yang ditunggu mereka. Tersentak
doni melihatnya lalu merempok cendol yang diminum nanda dan membuang kedua
cendol itu kebelakang. Nanda yang sedang menikmati cendol pun kaget mau marah.
namun ditahan oleh doni sambil mengacungkan jari kearah cewe itu. Nanda megerti
maksut doni. Mereka pura-pura nyantai di kursi tersebut. Setelah cewe itu
mendekat mereka bangkit dan nanda menyapa cewe itu seolah tidak sengaja ketemu.
“pulang
wik? Katanya tempat nenek?” sapa budi ke cewe itu.
“ia
ne nan udah ada yang gantiin aku disana.” Dewi menjawabnya dengan senyuman.
Bergetar
hati doni melihat senyuman itu. Membuatnya membanyangkan yang aneh-aneh. Lalu
dia tersadarketika nanda menyentuhnya dengan sikunya.
“woi,
ngelamun aj, apa yang lu lamunin ha..!” nanda mengejutkannya.
“eh,
ga ada. Oh ia, doni” sambil menjulurkan tangannya ke cewe itu.
“oh,
dewi” jawab cewe itu sambil tersenyum.
“salam
kenal ya, rumah gua di sebelah kirinya depan rumah depan rumah kamu” doni mencoba pede padahal
kakinya bergetar.
“
oh ia, aku tau kok. Kamu kan yang kemarin ada di depan rumah itu.” Jawab dewi.
“he..he
ia, maaf ya kemarin gak langsung knalan”jawab doni malu malu.
“ga
papa kok” jawab dewi sambil tersenyum.
“ehem..”
tiba tiba nanda mengejutkan.
Lalu mereka berempat kembali melanjutkan
perjalanan pulang. Sepanjang jalan mereka berempat saling bercerita dan
bercanda. Dan karena itu pula doni jadi tau kalau dia les di khalsa juga.
Setelah perkenalan itu doni dan dewi
semangkin dekat. Sering bermain bersama. Pulang sekolah bersama. Bahkan doni
mulai berubah dari tidak pernah keluar, Kini sering keluar rumah. Kelihatan
kalau doni suka dengan cewe itu. Doni lebih memiliki teman dari sebelumnya. Di
sekolah pun dia jadi sering senyum senyum sendiri membuat teman-temannya ke
heranan.
***
Doni pergi kerumah dewi berharap
dapat mengajaknya keluar rumah. Tetapi setelah sampai dirumah dewi, dilihatnya dewi
sedang menulis sesuatu di bukunya. Lalu doni permisi masuk ke rumah dewi. Lalu
doni duduk di samping dewi dilihatnya apa yang ditulis dewi. Lalu dewi menutup
buku itu sambil berkata.
“ngapain
don?” tanya dewi sambil menyembunyikan bukunya.
“kamu
lagi nulis apa sih, kok kayaknya rahasia banget?” doni malah bertanya ke dewi.
“ga
papa ntar kamu juga tau, bentar lagi siap kok”dewi mencoba ngejelasin.
Betapa
terkejutnya doni seakan akan jantungnya mau meledak mengetahui kalau yang ditulis itu adalah surat
cinta untuk tetangganya reza yang rumahnya di depan rumah dewi. Dan yang
membuat doni lebih sakit lagi ternyata surat tersebut di titipkan ke dia untuk
dikasih ke reza. Dengan berat hati doni menerima surat tersebut. Sepanjang
perjalanan menuju ke rumah reza doni doni mengutuk dirinya tidak terima kalau
dewi ternyata sudah dekat dengan doni. Sebenarnya doni sendiri belum tau sebenarnya
apa yang dia rasai ke dewi. Setelah mengetahui hal tersebut doni menjadi biasa
ke dewi dia hanya menganggapnya sebagai teman saja. Dewi pun tidak pernah tau
kalau sebenarnya doni pernah suka ke dia. Doni pun lama kelamaan kembali
menjadi doni yang dulu. Hidupnya berjalan seperti sedia kala. Sakit hatinya pun
sedikit demi sedikit pudar ditelan waktu.
lanjut kekecewaan
lanjut kekecewaan
No comments:
Post a Comment