text

tak hanya aku yang aku tulis
tak hanya kamu yang kamu baca

cdp Kekecewaan

Pekarangan rumah doni terlihat begitu kotor dengan daun kering berserak dimana-mana. Dengan sebatang sapu lidi doni mulai membersihkan pekarangannya. Terdengar suara ribut-ribut dari arah depan rumahnya. Dilihatnya ke arah itu ternya ada orang yang lagi pindahan. Sekilas Doni melihat cewe seumuran dia sedang mengangkati barang-barang. Tanpa sengaja mata cewe itu bertemu dengan mata doni. Cewe itu terlihat cantik di mata doni. Karena rasa penasarannya, doni sering duduk di depan rumah. Jika ada temannya yang lewat depan rumah pasti ditanyai tentang siapa yang baru pindah kerumah itu. Teman temannya heran karena tidak biasanya doni memunculkan batang hidungnya kecuali saat pergi dan pulang sekolah. Tinggal satu temannya yang belum lewat di depan rumah doni semenjak doni sering di depan rumah. nanda namanya, teman satu sekolah doni tetapi beda kelas. Tinggalnya satu blok dengan rumah doni tetapi dia di ujung sedangkan doni di tengah. Seperti hari-hari sebelumnya sore itu doni  duduk di teras rumahnya sambil memerhatikan rumah baru itu. Secara mengejutkan dilihatnya nanda sedang berjalan dari arah kedai menuju rumahnya. Entah kapan nanda kekedai itu tidak dipikirkan doni. dia langsung menghentikannya.
“woi nanda dari mana lo?” dengan sedikit  berteriak doni  memanggil nanda yang baru lewat di depan rumahnya.
“dari kedai disuruh beli ini tadi sama mamaku.” Jawab nanda sambil menunjukkan bawaan yang di pegangnya.
“Ada kerjaan lo abis tu?”tanya doni.
“gak ada, emank kenapa?” nanda heran gak biasanya doni  bertanya seperti itu.
“yang pindah ke rumah itu siapa, lu tau?”tanya doni sambil menunjuk rumah yang baru ditempati itu.
“oh itu, bentar ya aku ngantar ini dulu. Ntar aku ke situ.” Jawab nanda yang langsung pulang kerumahnya.
“ok lah nan” doni tersenyum kecil.
            Doni berfikir kalau sudah gitu pasti si nanda tau tu siapa. Soalnya temen-temenya yang ditanya nya pasti langsung bilang gak tau.
Sambil nunggu nanda, doni terus melihat rumah yang baru di tempati itu berharap cewe yang kemarin di lihatnya keluar. Ternyata cewe itu tidak keluar juga. Beberapa menit setelah itu nanda datang sambil senyum-senyum yang memiliki makna tersembunyi. Seakan tau maksud doni bertanya seperti tadi.
“samlekom” sambil tersenyum nanda datang.
“komsalam, napa lu senyum-senyum” doni merasa temannya yang satu ini aneh.
“biasa ajalah, suka-suka gua dong”
“ taunya lu siapa itu?”
“siapa? Yang mana?” nanda malah pura-pura lugu.
“itu loh keluarga yang baru pindah kesitu, dah gua bilang pun tadi” tanya doni sambil menunjuk rumah yang baru ditempati itu.
“keluarga itu apa cewe itu?” tanya nanda yang sengaja ngerjain doni.
“maksud lu?”doni tidak mengerti maksud nanda.
“ala pura – pura lugu lu, bilang aja lu mau nanya cewe yang ada di situ kan”nanda masih saja menggarai doni.
“loh ko lu tau ada cewe di rumah itu?” doni merasa lw udah kedahulu sama nanda.
“ya tau lah itukan sepupu gua”jawab nanda.
“syukurlah…” doni keceplosan.
“ha..apa? naksir lu ya? Pantesan lah belakangan ini lu sering duduk di depan rumah biasanya gak pernah nampak” ejek nanda.
Nanda merasa kalau temannya yang satu ini suka sama sepupunya itu. karena biasanya lw sore-sore gini doni ga pernah nampak selalu di dalam rumah bantu orang tuanya atau main game. Tidak seperti beberapa hari  ini dia selalu ada di depan rumahnya saat sore hari.
“ah gak lah, gua kan pengen ngelihat matahari terbenam” doni mencoba mengelak mencari alasan yang tak masuk akal.
“di laut lo lw mau ngelihat sunset, tuh muka lu dah berubah.”nanda semangkin tau doni.
“serius lu?”
“mau gua kenalin”
“boleh”
“enak aja, kenalan lah sendiri”nanda malah ngelak.
“macam mana mau kenalan gua aja ga pernah lagi ngeliat cewe itu.”
“ya ia lah dia kan masih tinggal di tepat neneknya belum mau dia tingal sini, mungkin il fill dia ngeliat muka lo.”ejek nanda.
“enak aja lu, lu kira gua hantu apa. Lu tu yang hantu” gerutuk doni yang gak senang di ejeki nanda.
“jadi gimana ne?” doni kembali meminta saran ke nanda.
Cukup lama mereka berdiam diri dengan mata kekanan-kekiri mencoba mencari cara agar doni bisa berkenalan dengan nya. Lalu tiba tiba nanda mengejutkan doni.
“aha…” bola lampu pijar tiba-tiba nyala di atas kepala nanda sepertinya dia mendapatkan ide.
Terdengar suara ibunya doni dari dalam rumah.
“adek jangan main – main saklar” ibu doni meneriaki adik bungsu doni.
“ada apa nan, dapet ide lu ??” tanya doni.
“gua baru teringat, kata adik gua besok dia mau kesini, jadi kita tunggu aja di simpang sepulang sekolah. Ntar kita pura-pura ga sengaja ketemu, baru deh gua kenalin lo. Gimana, pinterkan gua.” Nanda mencoba menjelaskan rencana ke doni dengan cara berbisik.
“ gak nyangka gua, bisa juga lu mikir kayak gitu..” sambung doni yang gak nyangka nanda bisa mikir sejauh itu.
“ ya gua, besok gua tunggu lo di gerbang sekolah jadi jangan pulang lewat belakang lu ya. Suka amat pulang cepet.” Perintah nanda.
Doni emang kalau pulang sekolah lewat belakang. Jalan belakang itu adalah jalan pintas menuju rumah doni.
 “ia…ia, tenang aja lu gua tunggu pun lw lu gak nampak” doni mencoba menyakinkan nanda.
“yaudah gua balik dulu ya, udah mau magrib ne ntar dimarai mama ku pula aku.” Kata nanda.
Lalu nanda pulang kerumahnya. Dengan perasaan lega doni memasuki rumahnya. Dia duduk diruang tamu sambil berfikir apa yang harus dilakukan dan dikatakannya kalau besok dia bertemu dan dikenalkan sama cewe itu. Maklum saja selama ini doni belum pernah ngomong langsung dengan wanita yang belum dikenalnya. Begitu terus dia sampai makan malam. Setelah makan malam bersama keluarganya dia kembali melanjutkan apa yang dipikirkannya tadi di kamarnya sampai dia tertidur.

***

Pagi itu doni bangun agak cepat. Mungkin karena dia terlalu memikirkan perjumpaanya dengan cewe baru itu. Di sekolah pun dia kembali seperti dulu hanya diam, berpikir dan malas untuk diajak ngobrol apa lagi keluar. Dia masih memikirkan apa yang harus dilakukannya agar dia tidak tampak konyol di depan cewe itu. Evan dan budi udah mencoba mengajak doni bermain tetapi doni menolaknya memilih tinggal di ruangan kelas. Jadi mereka pun pergi meninggalkan doni.
Beberapa menit sebelum lonceng teman-teman doni kembali memasuki kelas. Sepupunya doni datang kearah doni lalu memukul pundaknya.
“hayo…… diem aja semenjak masuk kelas tadi dek” sofi mengagetkan doni.
“astaga..mbak ini lo” jawab doni yang terkejut.
“mikirin apa si dek?”
“ga ada mbak..”
“ah yang bener…?”
“ga ada loh mbak, serius deh”
“ia…ia hati-hati dek bengong aja ntar kesambet”
Lalu sofi pergi ke tempat duduknya merasa ada yang sedang dipikirkan doni. Lonceng pun berbunyi dan dalam hitungan detik semua siswa sudah di dalam kelas yang menjadi ribut karena gurunya belum datang.
            Setiap lonceng pergantian les jantung doni semangkin cepat memompa darah. Sampai akhrinya lonceng pulang sekolah pun berbunyi. Jantung doni seperti berhenti berdetak. Doni perfikir untuk tidak menemui cewe itu tetapi ada di dalam diri doni yang seakan akan memberinya semangat untuk menemuinya.  
“aku harus bisa” itulah yang ada dipikiran doni.
            Tidak seperti biasa yang kalau pulang sekolah dia melalui pintu belakang dan berjalan sendirian. Kali ini dia langsung menuju gerbang sekolah. Sesampainya di gerbang dia tidak melihat ada tanda-tanda nanda sudah disitu. Dia berdiri tepat di depan gerbang sambil bersiul menghayal. Tak lama setelah itu budi dan evan juga keluar kelas dan melihat doni sedang menghayal di depan pagar. Budi yang memang suka ngejahili doni datang diam-diam menghampiri doni bermaksud ngejutkan doni.
“woi” kejut doni sambil memukul pundak doni.
Doni pun terkejut dan hampir mengeluarkan kata kotor
“anji.. lu” kata doni, spontan dia langsung menutup mulutnya.
“setan lah lu bud, law copot jantung gua tadi, susah gua masangnya lagi.” Sambung doni memarahi budi.
“maaf..,abisnya lu menghayal kok di keramaian.” Jawab doni sambil tertawa kecil.
“ia ngapai lu disini? Biasanya lewat jalan belakang lo.” Tanya evan yang masih gak ngerti kenapa doni akhir-akhir ini aneh.
“bukan urusan lu kali….mau gua lewat sini, lewat sana serah gua lah. pulang lu sana?” bantah doni dan mencoba ngelak dari temannya itu.
“okelah… yuk bud, biar aja dia disini. Lama-lama disini ikut gila pula kita.” Ajak evan ke budi.
            Evan dan budi pun langsung pergi meninggalkan doni dengan lamunannya. Doni yang masih menunggu bersyukur karena tidak dicurigai temannya itu. Waktu terus berganti dan gerbang yang tadinya ramai dilewati siswa yang pulang sudah terlihat sunyi hanya doni saja yang terlhat berdiri bersandar di pagar sekolah. Setelah cukup lama menunggu akhirnya nanda datang bersama dengan empat orang temannya.
“kalian duluan aja” kata doni menyuruh empat orang temannya pulang duluan.
Temannya pun pulang meninggalkan mereka berdua.
“kemana aja lo? Katanya nunggui taunya gua yang nunggui” tanya doni yang agak kesal kelamaan nunggui.
“sory don, tadi gua nyapu kelas, lupa gua ngasih tau kemarin” nanda mencoba menjelaskan.
“sudalah ayo kita pergi” pintah doni dan langsung berjalan ke arah simpang yang direncanakan.
“buru-buru amat lo” jawab nanda yang langsung lari ke samping doni.
            Doni tak menjawabnya hanya jalan saja. Sepanjang jalan doni hanya diam merasa grogi namun di tutupinya dengan sifat kesantaianya. Sesampainya disimpang itu doni mencari tempat duduk yang nyaman. Sedangkan nanda membeli es cendol di sekitaran daerah tersebut. Setelah membeli es cendol nanda kembali menemui doni sambil memberikan sebungkus cendol yang dibelinya.
“baik amat lo” kata doni sambil menerima es tersebut.
“enak aj, sini seribu” kata nanda sambil menadahkan tangan.
“gua kira lo kasih gratis” jawab doni.
“enak aja, lw ga mau ya udah sini cendolnya” pintah nanda kembali.
“ia…ia.. ini nah.” Jawab doni sambil memberikan uang seribu ke nanda.
            Setelah itu mereka menunggu cewe itu di tempat itu sambil minum es cendol. Tidak lama mereka nunggu bahkan es cendol pun masih setengah. Dilihatnya angkot berhenti di dekat simpang dan menurunkan dua anak cewe. Yang ternyata itu adalah cewe yang ditunggu mereka. Tersentak doni melihatnya lalu merempok cendol yang diminum nanda dan membuang kedua cendol itu kebelakang. Nanda yang sedang menikmati cendol pun kaget mau marah. namun ditahan oleh doni sambil mengacungkan jari kearah cewe itu. Nanda megerti maksut doni. Mereka pura-pura nyantai di kursi tersebut. Setelah cewe itu mendekat mereka bangkit dan nanda menyapa cewe itu seolah tidak sengaja ketemu.
“pulang wik? Katanya tempat nenek?” sapa budi ke cewe itu.
“ia ne nan udah ada yang gantiin aku disana.” Dewi menjawabnya dengan senyuman.
Bergetar hati doni melihat senyuman itu. Membuatnya membanyangkan yang aneh-aneh. Lalu dia tersadarketika nanda menyentuhnya dengan sikunya.
“woi, ngelamun aj, apa yang lu lamunin ha..!” nanda mengejutkannya.
“eh, ga ada. Oh ia, doni” sambil menjulurkan tangannya ke cewe itu.
“oh, dewi” jawab cewe itu sambil tersenyum.
“salam kenal ya, rumah gua di sebelah kirinya depan rumah  depan rumah kamu” doni mencoba pede padahal kakinya bergetar.
“ oh ia, aku tau kok. Kamu kan yang kemarin ada di depan rumah itu.” Jawab dewi.
“he..he ia, maaf ya kemarin gak langsung knalan”jawab doni malu malu.
“ga papa kok” jawab dewi sambil tersenyum.
“ehem..” tiba tiba nanda mengejutkan.
            Lalu mereka berempat kembali melanjutkan perjalanan pulang. Sepanjang jalan mereka berempat saling bercerita dan bercanda. Dan karena itu pula doni jadi tau kalau dia les di khalsa juga.
            Setelah perkenalan itu doni dan dewi semangkin dekat. Sering bermain bersama. Pulang sekolah bersama. Bahkan doni mulai berubah dari tidak pernah keluar, Kini sering keluar rumah. Kelihatan kalau doni suka dengan cewe itu. Doni lebih memiliki teman dari sebelumnya. Di sekolah pun dia jadi sering senyum senyum sendiri membuat teman-temannya ke heranan.

***

            Doni pergi kerumah dewi berharap dapat mengajaknya keluar rumah. Tetapi setelah sampai dirumah dewi, dilihatnya dewi sedang menulis sesuatu di bukunya. Lalu doni permisi masuk ke rumah dewi. Lalu doni duduk di samping dewi dilihatnya apa yang ditulis dewi. Lalu dewi menutup buku itu sambil berkata.
“ngapain don?” tanya dewi sambil menyembunyikan bukunya.
“kamu lagi nulis apa sih, kok kayaknya rahasia banget?” doni malah bertanya ke dewi.
“ga papa ntar kamu juga tau, bentar lagi siap kok”dewi mencoba ngejelasin.

Betapa terkejutnya doni seakan akan jantungnya mau meledak  mengetahui kalau yang ditulis itu adalah surat cinta untuk tetangganya reza yang rumahnya di depan rumah dewi. Dan yang membuat doni lebih sakit lagi ternyata surat tersebut di titipkan ke dia untuk dikasih ke reza. Dengan berat hati doni menerima surat tersebut. Sepanjang perjalanan menuju ke rumah reza doni doni mengutuk dirinya tidak terima kalau dewi ternyata sudah dekat dengan doni. Sebenarnya doni sendiri belum tau sebenarnya apa yang dia rasai ke dewi. Setelah mengetahui hal tersebut doni menjadi biasa ke dewi dia hanya menganggapnya sebagai teman saja. Dewi pun tidak pernah tau kalau sebenarnya doni pernah suka ke dia. Doni pun lama kelamaan kembali menjadi doni yang dulu. Hidupnya berjalan seperti sedia kala. Sakit hatinya pun sedikit demi sedikit pudar ditelan waktu.

lanjut kekecewaan

No comments:

Post a Comment