text

tak hanya aku yang aku tulis
tak hanya kamu yang kamu baca

09 September 2013

Cinta dan Persahabatan

prolog
DONI begitulah orang-orang memanggilnya.  Anak ke tiga dari 5 bersaudara. Yang hidup di keluarga  sederhana, memiliki wajah yang lumayan tetapi tidak pernah memerhatikan penampilannya sehingga menutupi aura kecakepannya. Dia memiliki sifat pendiam, pemalu dan tertutup. Karena di didik oleh keluarga yang pekerja keras  membuatnya jarang keluar rumah.
Bersekolah di sd yang jaraknya tidak terlalu jauh dari rumahnya. Sekolahnya aneh karena di dalam satu lokasi terdapat dua sd yang berbeda saling berhadapan. Ketika pulang sekolah ia selalu membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah dan karena itu pula membuatnya tidak pernah belajar dirumah. Tetapi di samping itu dia  memiliki kelebihan cepat nangkap jadi, dengan dia ada di kelas sewaktu pelajaran dia bisa mengerti tentang pelajaran.
Cita-cita doni lumayan tinggi menjadi pilot pesawat tempur. Doni lebih memilih pesawat tempur  dibanding pesawat komersil karena menurutnya pesawat tempur bisa bebas terbang di udara dari pada pesawat komersil yang sudah ada jalurnya.
Doni selalu berada di dalam rumah. Hanya bersosialisasi dengan orang tua, kakak dan adiknya membuat dia menjadi lebih dewasa dari anak seumurannya. Seperti waktu itu saat ia kelas empat sd ia sudah mengagumi anak cewe di sekolah ngajinya. Rama nama anak itu lebih tua satu tahun dari doni. Perawakannya lumayan tinggi dengan jilbab yang selalu dipakainya. Membuatnya semangkin manis dan menarik. Secara kebetulan anak itu bersekolah di depan sekolah doni. Banyak anak-anak kelas enam yang menyukai rama membuat doni susah mendekatinya. tentu saja rama lebih memilih anak kelas enam daripada doni yang umurnya masih di bawah rama.
Setelah doni tamat ngaji, dia jarang ketemu rama membuat jalannya untuk mendapatkan cewe itu tertutup rapat. Dia hanya bisa melihat cewe itu dari depan sekolahnya.
Satu lagi, anak seusianya biasanya suka membaca komik atau cerita dongeng. tetapi doni, dia lebih memilih membaca bagaimana cara mengendarai pesawat, cara landing, take of, pembuatan pesawat pokoknya yang berhubungan dengan pesawat.

Les sore
 Doni berjalan santai menuju sekolahnya menyusuri jalanan yang biasa dilaluinya tiap pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul  7.15 sedangkan dia masuk sekolah pukul 7.00. Dia datang seperti hari-hari sebelumnya. Seragamnya tidak rapi dengan baju tidak dimasukkan. Rambutnya yang tidak disisir  melambai-lambai terhembus angin. Pandangannya menatap jalan setapak di depannya sesekali melihat kedepan memastikan jalan yang di tuju. Dari kejauhan pagar besi tak terawat penuh karat terlihat dipandangannya. Itu adalah pagar sekolahnya. Di lewatinya pagar itu lalu  memasuki pekarangan sekolah tidak ada anak sekolah yang diluar hanya ada debu berterbangan bekas anak sekolah menyapu. Setiap dia melewati ruangan kelas dilihatnya guru – guru sudah mengajar. Tidak terlihat ketegangan dari wajah doni walaupun sudah 15 menit lewat dia terlambat.
Berhenti dia di depan ruangan kelas. Di lihatnya sosok ibu-ibu sedang duduk di belakang meja bertaplakan kain berwarna hijau dengan bunga plastik diatasnya. Dipandanginya ibu itu sambil bergumam
“aku lupa”
Dia lupa kalau saat ini sedang mata pelajaran matematika yang gurunya super galak.
“permisi buk…” kata doni ke gurunya tersebut.
Seluruh mata teman sekelas doni tertuju padanya.  
“kamu lagi. kenapa kamu terlambat, gak tau sudah pukul berapa ini?” bentak guru tesebut.
Doni melihat jam yang ada di tangannya
”pukul 7 lewat 15 buk”
”sini kamu”  
Doni datang ke meja guru itu dengan langkah yang santai. Doni sudah mengerti apa yang akan terjadi padanya beberapa detik lagi. Doni berhenti setelah berada dekat dengan ibu itu. Ternyata benar yang di fikirkan doni cobitan keras mendarat tepat di dadanya.
“aaaaw” teriak doni.
”kembali ke bangkumu “ perintah guru tersebut.
Doni berjalan menjauh dari meja guru menuju ke tempat duduk yang biasa didudukinya. Bangku itu berada di barisan hampir paling belakang. Sebangku dengan dua teman baiknya tetapi bisa juga di bilang teman buruknya karena merka kadang-kadang baik dan buruk terhadap doni. Evan yang orangnya serius dan sedikit pintar dan Budi yang jahil dan selalu ngerjain doni.
“lu kok terlambat lagi sih?” Tanya evan secara berbisik.
”lw mau terlambat jangan hari ini macam ga tau aja lu buk manik kayak gimana?” sambung budi.  
“lupa gua lw hari ini ibuk itu” Jawab doni dengan lagak tak bersalah.
“DONI…….sudah terlambat kamu malah buat keributan lagi” bentak guru tesebut.
Ketiga orang tersebut langsung diam dan tunduk. Walau pun doni sering buat kesal guru tersebut tetapi guru itu merasa aneh pada anak yang satu ini karena otaknya yang brilliant. Misalnya saja saat ada soal susah yang harus di kerjakan di papan tulis dan tidak ada satu pun yang berani mengajukan diri maka doni langsung maju dan mengerjakan, sesulit apapun soal itu. Seperti waktu itu hampir 1 les doni berada di depan kelas memecahkan soal yang sulit dan berhasil menemukan jawabannya membuat gurunya terkejut.
Seperti biasa diakhir pelajaran ada beberapa soal yang harus di kerjakan di depan kelas. Dan lagi-lagi ada satu soal yang sulit. Sepertinya memang khusus dibuat untuk doni. Tidak ada satu orang pun dari kelas tersebut yang berani mencobanya.
“don soal lu tuh” evan sudah putus asa mencoba mengerjakannya di meja, menyuruh doni untuk maju.
”lu aja lah ”jawab doni yang saat itu malas mengerjakan.
”ga nyampe situ otak gua” jawab evan sambil mendorong-dorong doni keluar dari bangkunya.
“ia..ia” doni pun maju dan mulai mengerjakannya.
Dengan kapur putih di tangan kanan dan penghapus di tangan kiri. Secara bergantian ia gunakan kedua alat itu dipapan tulis. Sudah hampir setengah jam doni behadapan dengan papan tulis belum berhasil juga ia menyelesaikannya.
 ”waduh ibuk ne menjebak kayaknya” pikir doni yang sudah mulai lelah berdiri.
Doni yang tidak putus asa dan terus mengerjakannya tetapi tiba-tiba ”teng…teng…teng” lonceng berunyi menanda kan waktunya instrahat dan semua murid yang ada di kelas doni sudah menunggu – nunggu suara itu kecuali doni.
Semua orang di kelas itu berjalan menuju pintu kelas tetapi doni berjalan lunglai  kembali ke tempat duduknya kecewa karena belum bisa menyelesaikan soal tersebut.
”cepet banget sih istrahat padahal udah hampir berhasil tadi” gumam doni.
Terpaku dia ditempat duduknya sambil memandangi selembar kertas yang menjadi coretannya saat mengerjakan soal yang belum terselesaikan tadi.
Terlihat senyuman muncul di bibir doni. Dia  berhasil menemukan jalan baru yang belum dicobanya saat menyelesaiaanya soal tadi. Doni yakin kalau jalan itu pasti berhasil. dua temannya yang telah keluar tadi kembali kekelas dan menghampiri doni.
”woi don ngapain lu diem aja dikelas ini, ga bosen lu??”  budi memukul meja tempat doni menulis-nulis penyelesaian dari soal itu.
Doni yang sedang serius tingkat dewa langsung ngucap ”astagfirulah…. oala bud…bud… ngejutin aja lu dateng-dateng“.
“lu pula serius amat” sambung budi.
”ia.. apa sih yang sedang lu pikiri??. Cwe ya, hayo ngaku lu..” evan mencoba ngegodain doni.
”enak aja lu kata, ne aku lagi ngerjain soal yang di depan tadi kan blum selesai tuh udah lonceng” doni masih merasah kesel.
”wuih…. jadi pinter lah lu ntar don ”ejek evan.
”bukan urusan lu! Lagian ngapain klen blik lagi? Biasanya lw udah keluar kelas lonceng dulu  baru lu pada balik ”doni heran sikap temannya itu tidak seperti biasanya.
”ada yang mau kita omongin ke elu, jelasin bud” printah evan ke budi.
”kok aku? Yaudalah, gini don dua hari yang lalu kami  mendaftar les bahasa inggris.”  budi mencoba menjelaskan dengan kata-katanya.
”terus…”potong  doni .
”tempatnya enak don, yang ngajar juga jago jago”
”terus..”
”banyak cewe-cewe, rame lah pokoknya”.
”teruuus..”
 ”trus entar di akhir smester kita bakalan study tour ke danau toba ketemu bule-bule gitu don” nada suara budi semangkin meninggi mulai agak kesel dengan jawaban doni.
”teru…”
Evan juga sudah mulai terganggu dengan kata terus doni dan lasngsung memotong kata-kata doni.
 ”elu terus-terus aja taunya, sabar dikit napa biarkan  budi nyelesaiin ceritanya  dulu..” doni memotong percakapan itu.
”ia…trus hubungannya ke gua tuh apa??” doni semangkin tidak memahami.
“lu mau gak ikut kita les bahasa inggris disitu !!” ujar budi.
”ha.. ngapain lu ngajak gua, trus kenapa pula kita les bahasa inggris bukannya kita ada mata pelajaran bahasa inggris di sini??”
Doni beranggapan kalau mata pelajaran bahasa inggris di sekolahnya sudah cukup. Padahal sangat kurang, materi pelajarannya sudah ketingglan ditambah lagi guru yang ngajar juga tidak terlalu nguasai bahasa inggris bahkan jorok lagi. Di kelas saja guru tersebut sering dikerjain oleh teman-temannya doni.
“oala don…don, ya biar lebih nguasain bahasa inggris lah kita, emang ada yang lain dari itu? Dah gitu yakin lu sama guru kayak gitu?” ujar evan dengan maksud mengejek guru tersebut.
”enggak , emangnya lu  lesnya dimana sih?” tanya doni.
”di khalsa don, yang di jalan tamren dekat SMA4 itu loh”  evan mencoba menjelaskan.
”yang mana tu??” doni mencoba memikirkan dan membayangkan letak lokasinya itu. Tiba-tiba saja pandangannya berubah menjadi jalan raya. Doni mengendarai mobil mencari jalan tamrin kesana-kemari tetapi tidak dapat ditemukan. Lalu dia mencari SMAN4. Lumayan lama dia keliling kota dan akhirnya menemukannya. Doni memutari SMA itu tetapi tetap tidak menemukan khalsa. Tiba-tiba saja semua jalan yang tadi berubah menjadi wajah Budi.
“woi, bayangin apa lu” budi yang kelamaan nunggui doni membuyarkan bayangan doni.
“setan lu, ganggu aja” doni tersentak dan tekejut tiba – tiba sudah ada wajah budi di depannya.
 ”udalah don ga usah segitunya mikiri jalan tamrin, makanya lw pulang sekolah itu jangan langsung pulang, jalan-jalan kemana kek” budi kembali mengejek doni.
”ia don jangan taunya rumah sama sekolah aja“ evan tersenyum mengejek doni.
”udah gak usah lu pikiri don, lu Tanya aja ntar sama bokap lo” evan menambahi ejekannya.
”ia..ia taunya gua yang anak rumahan tapi jangan dittindas gini napa. Di depan orang-orang itu lagi” doni merasa malu.
Karena saat itu teman – teman mereka telah banyak yang kembali kekelas. Kelas yang tadinya hanya ada mereka bertiga telah ramai.
”waduh kalian, kasian tuh si doni klen tindas terus “ cetus salah satu orang yang baru memasuki kelas.
Orang itu adalah sofia yang tidak lain adalah sepupu doni yang pindahan dari luar kota ketika mereka kelas dua.
”Kami gak bermaksut nindas sof, sepupu lu ne ajak jalan – jalan napa sekali-sekali” budi menjelaskan ke sofia.
“emang kenapa sepupu gua tu?“ sofi gak mengerti maksud budi.
“masak jalan tamrin aja dia ga tau” jawab evan.
“sibuk dia itu, emang ada apa sih di tamrin van?” sofi meminta kejelasan ke evan.
“kami mau ajak dia les sof” jawab evan.
“bagus tu don, biar lu gak dirumah aja don“ sofi malah membela evan dan budi.
”mbak koq malah bela mereka sih?” doni heran sama  sepupunya yang malah pro sama mereka.
“jadi gmana mau gak lu ikut kita?”evan kembali bertanya.
“gmna ya?, ntar lah gua Tanya bokap gua dulu.” Doni mangkin bingung dan menjawab seadanya saja.
Budi yang tadi menghilang tiba tiba muncul langsung ngomong pula.
“oala don…don sikit-sikit tannya bokap , anak rumahan banget sih lu” ejek budi.
 ”tapi kan yang daftarin,ngasih uang jajan gua bokap bud” jawab doni membela diri.
”teserah lo aja deh don, ga bisa ngomong lagi gua ”evan mengangkat tangannya menandakan  menyerah dengan doni.
”sama..” budi mengikuti gaya evan.
“jadi klen dateng kesini Cuma buat ngomong gitu??” Tanya doni.
”ya gak lah, tadinya sih aku mau ajak lu jajan tapi lunya susah diajak ngobrol dah masuk lah jadinya” jawab budi kecewa.
”teng…teng…teng” guru mereka pun datang mereka yang tadinya bising seperti terminal menjadi diam tak bersuara seperti rumput yang ditimpa salju. Semetara Doni tidak konsen belajar karena masih memikirkan kata-kata evan dan budi tadi.
”gua ikut mereka gak ya ??” doni masih ragu karena sebelumnya dia tidak pernah kekota.
”coba ajalah” jawabnya sendiri.

***

Keesokan harinya doni datang kesekolah seperti biasa tetapi kali ini tidak telat. Ketika memasuki kelas ternyata budi dan evan telah menunggunya untuk mencari kejelasan.
“ gimana dikasi gak lu ma bokap lu tu?” budi yang penasaran langsung menanyakan budi yang blum lagi sampai di tempat duduknya.
“sabar napa lu dulu biarin gua duduk dulu napa. Ini belumpun meletakin tas gua. udah lu tanyain” sambung doni agak kesel dengan temannya yan satu itu.
”ia maaf” jawab budi menyesal.
“gak di kasih…” jawab doni.
“gitu amat sih bokap lu masa anak mau blajar gak dikasih!!” evan memotong perkataan doni.
“sabar napa belum siap gua ngomong. Ga dikasih pertamanya tapi setelah mereka berunding dan aku membujuk akhirnya dikasih deh” lanjut doni.
”kenapa kok susah banget lu dapet izin dari orang tua lu?” budi merasa aneh sama keluarga budi.
” soalnya abang ku kan les bahasa inggris juga. dia sering cabut les gitu kata bokap gua. Jadi takut entar gua gitu juga” Jawab doni dengan polosnya.
“oh gitu to” sambung budi .
“Jadi kapan lu daftar don? “ Tanya evan.
”gak tau gua kata bokap gua sih kalau gak hari ini ya besok. Kenapa rupanya? Buru-buru sih amat lu??” Tanya doni.
“ntar lw lu daftar lu pilih klas primary  III ya don” evan mencoba menjelaskan.
”kenapa gitu van. Gua kan gak pernah ikut les sama sekali masak udah langsung ke tingkat itu dah gitu huruf – huruf aja gua gak tau” doni heran karena selama ini dia gak pernah ikutan les.
”udalah ikut aja” jawab budi senyum-senyum.
“okelah awas lw lu kerjain ya” tegas doni.

***

Hari ini pertama kalinya doni pergi keluar dari rumah setelah ia pulang sekolah. Dia pergi ke khalsa untuk mendaftar dengan ayahnya. Saat pendaftaran terdapat dua pilihan yaitu langsung mulai belajar atau nunggu besok. Saat itu doni memilih langsung belajar. Ketika pendaftaran selesai doni menuju ruangan kelas yang diantar oleh staf tata usaha tempat les tersebut dan ayahnya langsung pulang. Ia memasuki ruangan dan sangat terkejut gak yakin kalu itu kelasnya. Yang berada di kelas tersebut adalah anak-anak smp yang jauh lebih tua dibanding dia. Hanya ada dua orang yang sebayanya yaitu budi dan evan yang duduk di belakang. Saat itu kelas sedang belajar tentang kata kerja yang gurunya adalah sir Thomas. Saat memasuki kelas doni terlihat gugup. Lalu memilih duduk de dekat temannya.
“gila lo, masak milih kelas gak sesuai dengan kita gini. Orang-orang ini kan anak smp.” bisik doni ke kedua temannya tersebut.
”jalani aja dulu don. Kmaren kami salah ambil kelas” jawab evan tersenyum.
“setan lu, lu jebak gua biar nambah temen lu disini kan”Doni merasa kecewa dengan teman-temannya.
Ternyata yang dipelajari di kelas tersebut sungguh jauh diluar perkiraanya. Itu karena yang di pelajari di kelas itu lebih tinggi 3 tingkat dibanding yang di pelajarinya saat sekolah. Beberapa jam dikelas dia hanya bisa diam dan ngangguk-ngangguk saja pura pura mengerti padahal dia tidak tau sama sekali tentang semua itu.
Sir tersebut datang mendekati doni. Doni mulai jantungan seakan akan aliran darah yang menuju ke kepalanya berubah menjadi banjir yang meluap, lebih baik mengerjakan soal yang paling sulit daripada berada di posisi itu pikirnya.
“ kamu doni kan?” tnya guru tersebut.
”i…iya pak” jawab doni gugup.
”doni apa bentuk ketiga dari kata keep” Tanya sir Thomas. “keeped sir ” jawab doni tidak percaya diri.
”ya benar”kata sir Thomas.
Lalu sir Thomas kembali ke depan kelas. Doni terbodoh di tempat duduknya. dia sendiri heran  kenapa bisa jawabannya benar. Saat itu doni menjawab keeped karena dia hanya beranggapan verb2 dan verb3 hannya ditambahin ed pada akhir katanya saja.
Pelajaran tersebut pun berakhir seluruh siswa yang ada di kelas pada keluar, sedangkan doni masih terbodoh di ruangan tersebut. Dia berfikir
“apa sanggup aku menjalani les ini??” Tanya dia dalam hati.
“ah ngapain juga gua pikirin”dijawab sendiri olehnya.
 Setelah seluruh pikirannya kembali normal dia langsung membereskan bukunya dan meninggalkan kelas. Setelah dia keluar dari gerbang khalsa matanya terus mencari dan mencari. Yang dicarinya tidak lain adalah temannya yang ternyata telah meningalkannya.
”sial ditinggal gua sama cunguk-cunguk itu “ ucap doni kesal.
Doni pun pulang sendirian karena ditinggal temannya. Sesampainya dirumah doni memasuki rumah dengan wajah lesu terlihat sangat kelelahan.
“samlekom” doni memberi salam.
”waalaikum salam”jawab ibunya.
“gimana lesnya don ?” Tanya ayahnya.
Doni tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar untuk berbaring. Yang ada di pikiran doni saat itu adalah istrahat dan tidur.
”don jangan tidur bentar lagi magrib” terdengar suara ibunya dari ruang tamu tetapi doni tidak menghiraukannya.
“doni…” ibunya kembali memanggilnya.
 “ia… bu” doni menjawab panggilan ibunya tetapi masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.
Beberapa hari setelah pendaftaran itu doni sudah mulai bisa mengikuti pelajaran walaupun hanya sedeikit. Terlebih lagi dia memiliki lebih banyak teman tidak lagi hanya dua temennya itu. Disekolah pun mereka bertiga lebih sering terlihat bersama. Bercanda-canda, doni lebih sering berbicara daripada waktu dulu.


2 comments: