prolog
DONI begitulah orang-orang memanggilnya.
Anak ke tiga dari 5 bersaudara. Yang
hidup di keluarga sederhana, memiliki
wajah yang lumayan tetapi tidak pernah memerhatikan penampilannya sehingga menutupi
aura kecakepannya. Dia memiliki sifat pendiam, pemalu dan tertutup. Karena di didik
oleh keluarga yang pekerja keras membuatnya
jarang keluar rumah.
Bersekolah di sd yang jaraknya tidak
terlalu jauh dari rumahnya. Sekolahnya aneh karena di dalam satu lokasi
terdapat dua sd yang berbeda saling berhadapan. Ketika pulang sekolah ia selalu
membantu orang tuanya mengerjakan pekerjaan rumah dan karena itu pula membuatnya
tidak pernah belajar dirumah. Tetapi di samping itu dia memiliki kelebihan cepat nangkap jadi, dengan
dia ada di kelas sewaktu pelajaran dia bisa mengerti tentang pelajaran.
Cita-cita doni lumayan tinggi menjadi
pilot pesawat tempur. Doni lebih memilih pesawat tempur dibanding pesawat komersil karena menurutnya
pesawat tempur bisa bebas terbang di udara dari pada pesawat komersil yang
sudah ada jalurnya.
Doni selalu berada di dalam rumah. Hanya
bersosialisasi dengan orang tua, kakak dan adiknya membuat dia menjadi lebih
dewasa dari anak seumurannya. Seperti waktu itu saat ia kelas empat sd ia sudah
mengagumi anak cewe di sekolah ngajinya. Rama nama anak itu lebih tua satu
tahun dari doni. Perawakannya lumayan tinggi dengan jilbab yang selalu
dipakainya. Membuatnya semangkin manis dan menarik. Secara kebetulan anak itu
bersekolah di depan sekolah doni. Banyak anak-anak kelas enam yang menyukai
rama membuat doni susah mendekatinya. tentu saja rama lebih memilih anak kelas
enam daripada doni yang umurnya masih di bawah rama.
Setelah doni tamat ngaji, dia jarang
ketemu rama membuat jalannya untuk mendapatkan cewe itu tertutup rapat. Dia
hanya bisa melihat cewe itu dari depan sekolahnya.
Satu lagi, anak seusianya biasanya suka
membaca komik atau cerita dongeng. tetapi doni, dia lebih memilih membaca bagaimana
cara mengendarai pesawat, cara landing, take of, pembuatan pesawat pokoknya
yang berhubungan dengan pesawat.
Les sore
Doni
berjalan santai menuju sekolahnya menyusuri jalanan yang biasa dilaluinya tiap
pagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 7.15
sedangkan dia masuk sekolah pukul 7.00. Dia datang seperti hari-hari sebelumnya.
Seragamnya tidak rapi dengan baju tidak dimasukkan. Rambutnya yang tidak
disisir melambai-lambai terhembus angin.
Pandangannya menatap jalan setapak di depannya sesekali melihat kedepan
memastikan jalan yang di tuju. Dari kejauhan pagar besi tak terawat penuh karat
terlihat dipandangannya. Itu adalah pagar sekolahnya. Di lewatinya pagar itu
lalu memasuki pekarangan sekolah tidak
ada anak sekolah yang diluar hanya ada debu berterbangan bekas anak sekolah
menyapu. Setiap dia melewati ruangan kelas dilihatnya guru – guru sudah mengajar.
Tidak terlihat ketegangan dari wajah doni walaupun sudah 15 menit lewat dia
terlambat.
Berhenti
dia di depan ruangan kelas. Di lihatnya sosok ibu-ibu sedang duduk di belakang
meja bertaplakan kain berwarna hijau dengan bunga plastik diatasnya.
Dipandanginya ibu itu sambil bergumam
“aku
lupa”
Dia
lupa kalau saat ini sedang mata pelajaran matematika yang gurunya super galak.
“permisi
buk…” kata doni ke gurunya tersebut.
Seluruh
mata teman sekelas doni tertuju padanya.
“kamu
lagi. kenapa kamu terlambat, gak tau sudah pukul berapa ini?” bentak guru
tesebut.
Doni
melihat jam yang ada di tangannya
”pukul
7 lewat 15 buk”
”sini
kamu”
Doni datang ke meja guru itu dengan
langkah yang santai. Doni sudah mengerti apa yang akan terjadi padanya beberapa
detik lagi. Doni berhenti setelah berada dekat dengan ibu itu. Ternyata benar
yang di fikirkan doni cobitan keras mendarat tepat di dadanya.
“aaaaw”
teriak doni.
”kembali
ke bangkumu “ perintah guru tersebut.
Doni berjalan menjauh dari meja guru
menuju ke tempat duduk yang biasa didudukinya. Bangku itu berada di barisan
hampir paling belakang. Sebangku dengan dua teman baiknya tetapi bisa juga di
bilang teman buruknya karena merka kadang-kadang baik dan buruk terhadap doni.
Evan yang orangnya serius dan sedikit pintar dan Budi yang jahil dan selalu
ngerjain doni.
“lu
kok terlambat lagi sih?” Tanya evan secara berbisik.
”lw
mau terlambat jangan hari ini macam ga tau aja lu buk manik kayak gimana?”
sambung budi.
“lupa
gua lw hari ini ibuk itu” Jawab doni dengan lagak tak bersalah.
“DONI…….sudah
terlambat kamu malah buat keributan lagi” bentak guru tesebut.
Ketiga orang tersebut langsung diam dan
tunduk. Walau pun doni sering buat kesal guru tersebut tetapi guru itu merasa
aneh pada anak yang satu ini karena otaknya yang brilliant. Misalnya saja saat
ada soal susah yang harus di kerjakan di papan tulis dan tidak ada satu pun
yang berani mengajukan diri maka doni langsung maju dan mengerjakan, sesulit
apapun soal itu. Seperti waktu itu hampir 1 les doni berada di depan kelas
memecahkan soal yang sulit dan berhasil menemukan jawabannya membuat gurunya terkejut.
Seperti biasa diakhir pelajaran ada
beberapa soal yang harus di kerjakan di depan kelas. Dan lagi-lagi ada satu
soal yang sulit. Sepertinya memang khusus dibuat untuk doni. Tidak ada satu
orang pun dari kelas tersebut yang berani mencobanya.
“don
soal lu tuh” evan sudah putus asa mencoba mengerjakannya di meja, menyuruh doni
untuk maju.
”lu
aja lah ”jawab doni yang saat itu malas mengerjakan.
”ga
nyampe situ otak gua” jawab evan sambil mendorong-dorong doni keluar dari
bangkunya.
“ia..ia”
doni pun maju dan mulai mengerjakannya.
Dengan kapur putih di tangan kanan dan
penghapus di tangan kiri. Secara bergantian ia gunakan kedua alat itu dipapan
tulis. Sudah hampir setengah jam doni behadapan dengan papan tulis belum
berhasil juga ia menyelesaikannya.
”waduh ibuk ne menjebak kayaknya” pikir doni
yang sudah mulai lelah berdiri.
Doni
yang tidak putus asa dan terus mengerjakannya tetapi tiba-tiba ”teng…teng…teng”
lonceng berunyi menanda kan waktunya instrahat dan semua murid yang ada di
kelas doni sudah menunggu – nunggu suara itu kecuali doni.
Semua orang di kelas itu berjalan menuju
pintu kelas tetapi doni berjalan lunglai kembali ke tempat duduknya kecewa karena belum
bisa menyelesaikan soal tersebut.
”cepet
banget sih istrahat padahal udah hampir berhasil tadi” gumam doni.
Terpaku
dia ditempat duduknya sambil memandangi selembar kertas yang menjadi coretannya
saat mengerjakan soal yang belum terselesaikan tadi.
Terlihat senyuman muncul di bibir doni.
Dia berhasil menemukan jalan baru yang
belum dicobanya saat menyelesaiaanya soal tadi. Doni yakin kalau jalan itu
pasti berhasil. dua temannya yang telah keluar tadi kembali kekelas dan
menghampiri doni.
”woi
don ngapain lu diem aja dikelas ini, ga bosen lu??” budi memukul meja tempat doni menulis-nulis
penyelesaian dari soal itu.
Doni
yang sedang serius tingkat dewa langsung ngucap ”astagfirulah…. oala bud…bud…
ngejutin aja lu dateng-dateng“.
“lu
pula serius amat” sambung budi.
”ia..
apa sih yang sedang lu pikiri??. Cwe ya, hayo ngaku lu..” evan mencoba
ngegodain doni.
”enak
aja lu kata, ne aku lagi ngerjain soal yang di depan tadi kan blum selesai tuh
udah lonceng” doni masih merasah kesel.
”wuih….
jadi pinter lah lu ntar don ”ejek evan.
”bukan
urusan lu! Lagian ngapain klen blik lagi? Biasanya lw udah keluar kelas lonceng
dulu baru lu pada balik ”doni heran
sikap temannya itu tidak seperti biasanya.
”ada
yang mau kita omongin ke elu, jelasin bud” printah evan ke budi.
”kok
aku? Yaudalah, gini don dua hari yang lalu kami mendaftar les bahasa inggris.” budi mencoba menjelaskan dengan kata-katanya.
”terus…”potong
doni .
”tempatnya
enak don, yang ngajar juga jago jago”
”terus..”
”banyak
cewe-cewe, rame lah pokoknya”.
”teruuus..”
”trus entar di akhir smester kita bakalan study
tour ke danau toba ketemu bule-bule gitu don” nada suara budi semangkin
meninggi mulai agak kesel dengan jawaban doni.
”teru…”
Evan
juga sudah mulai terganggu dengan kata terus doni dan lasngsung memotong
kata-kata doni.
”elu terus-terus aja taunya, sabar dikit napa biarkan
budi nyelesaiin ceritanya dulu..” doni memotong percakapan itu.
”ia…trus
hubungannya ke gua tuh apa??” doni semangkin tidak memahami.
“lu
mau gak ikut kita les bahasa inggris disitu !!” ujar budi.
”ha..
ngapain lu ngajak gua, trus kenapa pula kita les bahasa inggris bukannya kita
ada mata pelajaran bahasa inggris di sini??”
Doni beranggapan kalau mata pelajaran bahasa
inggris di sekolahnya sudah cukup. Padahal sangat kurang, materi pelajarannya
sudah ketingglan ditambah lagi guru yang ngajar juga tidak terlalu nguasai
bahasa inggris bahkan jorok lagi. Di kelas saja guru tersebut sering dikerjain
oleh teman-temannya doni.
“oala
don…don, ya biar lebih nguasain bahasa inggris lah kita, emang ada yang lain
dari itu? Dah gitu yakin lu sama guru kayak gitu?” ujar evan dengan maksud
mengejek guru tersebut.
”enggak
, emangnya lu lesnya dimana sih?” tanya
doni.
”di
khalsa don, yang di jalan tamren dekat SMA4 itu loh” evan mencoba menjelaskan.
”yang
mana tu??” doni mencoba memikirkan dan membayangkan letak lokasinya itu. Tiba-tiba
saja pandangannya berubah menjadi jalan raya. Doni mengendarai mobil mencari
jalan tamrin kesana-kemari tetapi tidak dapat ditemukan. Lalu dia mencari SMAN4.
Lumayan lama dia keliling kota dan akhirnya menemukannya. Doni memutari SMA itu
tetapi tetap tidak menemukan khalsa. Tiba-tiba saja semua jalan yang tadi
berubah menjadi wajah Budi.
“woi,
bayangin apa lu” budi yang kelamaan nunggui doni membuyarkan bayangan doni.
“setan
lu, ganggu aja” doni tersentak dan tekejut tiba – tiba sudah ada wajah budi di
depannya.
”udalah don ga usah segitunya mikiri jalan
tamrin, makanya lw pulang sekolah itu jangan langsung pulang, jalan-jalan kemana
kek” budi kembali mengejek doni.
”ia
don jangan taunya rumah sama sekolah aja“ evan tersenyum mengejek doni.
”udah
gak usah lu pikiri don, lu Tanya aja ntar sama bokap lo” evan menambahi
ejekannya.
”ia..ia
taunya gua yang anak rumahan tapi jangan dittindas gini napa. Di depan
orang-orang itu lagi” doni merasa malu.
Karena
saat itu teman – teman mereka telah banyak yang kembali kekelas. Kelas yang
tadinya hanya ada mereka bertiga telah ramai.
”waduh
kalian, kasian tuh si doni klen tindas terus “ cetus salah satu orang yang baru
memasuki kelas.
Orang
itu adalah sofia yang tidak lain adalah sepupu doni yang pindahan dari luar
kota ketika mereka kelas dua.
”Kami
gak bermaksut nindas sof, sepupu lu ne ajak jalan – jalan napa sekali-sekali”
budi menjelaskan ke sofia.
“emang
kenapa sepupu gua tu?“ sofi gak mengerti maksud budi.
“masak
jalan tamrin aja dia ga tau” jawab evan.
“sibuk
dia itu, emang ada apa sih di tamrin van?” sofi meminta kejelasan ke evan.
“kami
mau ajak dia les sof” jawab evan.
“bagus
tu don, biar lu gak dirumah aja don“ sofi malah membela evan dan budi.
”mbak
koq malah bela mereka sih?” doni heran sama sepupunya yang malah pro sama mereka.
“jadi
gmana mau gak lu ikut kita?”evan kembali bertanya.
“gmna
ya?, ntar lah gua Tanya bokap gua dulu.” Doni mangkin bingung dan menjawab
seadanya saja.
Budi
yang tadi menghilang tiba tiba muncul langsung ngomong pula.
“oala
don…don sikit-sikit tannya bokap , anak rumahan banget sih lu” ejek budi.
”tapi kan yang daftarin,ngasih uang jajan gua
bokap bud” jawab doni membela diri.
”teserah
lo aja deh don, ga bisa ngomong lagi gua ”evan mengangkat tangannya menandakan menyerah dengan doni.
”sama..”
budi mengikuti gaya evan.
“jadi
klen dateng kesini Cuma buat ngomong gitu??” Tanya doni.
”ya
gak lah, tadinya sih aku mau ajak lu jajan tapi lunya susah diajak ngobrol dah
masuk lah jadinya” jawab budi kecewa.
”teng…teng…teng”
guru mereka pun datang mereka yang tadinya bising seperti terminal menjadi diam
tak bersuara seperti rumput yang ditimpa salju. Semetara Doni tidak konsen belajar
karena masih memikirkan kata-kata evan dan budi tadi.
”gua
ikut mereka gak ya ??” doni masih ragu karena sebelumnya dia tidak pernah
kekota.
”coba
ajalah” jawabnya sendiri.
***
Keesokan harinya doni datang kesekolah
seperti biasa tetapi kali ini tidak telat. Ketika memasuki kelas ternyata budi
dan evan telah menunggunya untuk mencari kejelasan.
“
gimana dikasi gak lu ma bokap lu tu?” budi yang penasaran langsung menanyakan
budi yang blum lagi sampai di tempat duduknya.
“sabar
napa lu dulu biarin gua duduk dulu napa. Ini belumpun meletakin tas gua. udah
lu tanyain” sambung doni agak kesel dengan temannya yan satu itu.
”ia
maaf” jawab budi menyesal.
“gak
di kasih…” jawab doni.
“gitu
amat sih bokap lu masa anak mau blajar gak dikasih!!” evan memotong perkataan
doni.
“sabar
napa belum siap gua ngomong. Ga dikasih pertamanya tapi setelah mereka
berunding dan aku membujuk akhirnya dikasih deh” lanjut doni.
”kenapa
kok susah banget lu dapet izin dari orang tua lu?” budi merasa aneh sama
keluarga budi.
”
soalnya abang ku kan les bahasa inggris juga. dia sering cabut les gitu kata
bokap gua. Jadi takut entar gua gitu juga” Jawab doni dengan polosnya.
“oh
gitu to” sambung budi .
“Jadi
kapan lu daftar don? “ Tanya evan.
”gak
tau gua kata bokap gua sih kalau gak hari ini ya besok. Kenapa rupanya?
Buru-buru sih amat lu??” Tanya doni.
“ntar
lw lu daftar lu pilih klas primary III
ya don” evan mencoba menjelaskan.
”kenapa
gitu van. Gua kan gak pernah ikut les sama sekali masak udah langsung ke
tingkat itu dah gitu huruf – huruf aja gua gak tau” doni heran karena selama
ini dia gak pernah ikutan les.
”udalah
ikut aja” jawab budi senyum-senyum.
“okelah
awas lw lu kerjain ya” tegas doni.
***
Hari ini pertama kalinya doni pergi
keluar dari rumah setelah ia pulang sekolah. Dia pergi ke khalsa untuk mendaftar
dengan ayahnya. Saat pendaftaran terdapat dua pilihan yaitu langsung mulai
belajar atau nunggu besok. Saat itu doni memilih langsung belajar. Ketika pendaftaran
selesai doni menuju ruangan kelas yang diantar oleh staf tata usaha tempat les
tersebut dan ayahnya langsung pulang. Ia memasuki ruangan dan sangat terkejut
gak yakin kalu itu kelasnya. Yang berada di kelas tersebut adalah anak-anak smp
yang jauh lebih tua dibanding dia. Hanya ada dua orang yang sebayanya yaitu
budi dan evan yang duduk di belakang. Saat itu kelas sedang belajar tentang
kata kerja yang gurunya adalah sir Thomas. Saat memasuki kelas doni terlihat gugup.
Lalu memilih duduk de dekat temannya.
“gila
lo, masak milih kelas gak sesuai dengan kita gini. Orang-orang ini kan anak
smp.” bisik doni ke kedua temannya tersebut.
”jalani
aja dulu don. Kmaren kami salah ambil kelas” jawab evan tersenyum.
“setan
lu, lu jebak gua biar nambah temen lu disini kan”Doni merasa kecewa dengan
teman-temannya.
Ternyata yang dipelajari di kelas
tersebut sungguh jauh diluar perkiraanya. Itu karena yang di pelajari di kelas
itu lebih tinggi 3 tingkat dibanding yang di pelajarinya saat sekolah. Beberapa
jam dikelas dia hanya bisa diam dan ngangguk-ngangguk saja pura pura mengerti
padahal dia tidak tau sama sekali tentang semua itu.
Sir tersebut datang mendekati doni. Doni
mulai jantungan seakan akan aliran darah yang menuju ke kepalanya berubah
menjadi banjir yang meluap, lebih baik mengerjakan soal yang paling sulit
daripada berada di posisi itu pikirnya.
“
kamu doni kan?” tnya guru tersebut.
”i…iya
pak” jawab doni gugup.
”doni
apa bentuk ketiga dari kata keep” Tanya sir Thomas. “keeped sir ” jawab doni
tidak percaya diri.
”ya
benar”kata sir Thomas.
Lalu sir Thomas kembali ke depan kelas. Doni
terbodoh di tempat duduknya. dia sendiri heran kenapa bisa jawabannya benar. Saat itu doni
menjawab keeped karena dia hanya beranggapan verb2 dan verb3 hannya ditambahin
ed pada akhir katanya saja.
Pelajaran tersebut pun berakhir seluruh
siswa yang ada di kelas pada keluar, sedangkan doni masih terbodoh di ruangan
tersebut. Dia berfikir
“apa
sanggup aku menjalani les ini??” Tanya dia dalam hati.
“ah
ngapain juga gua pikirin”dijawab sendiri olehnya.
Setelah seluruh pikirannya kembali normal dia
langsung membereskan bukunya dan meninggalkan kelas. Setelah dia keluar dari
gerbang khalsa matanya terus mencari dan mencari. Yang dicarinya tidak lain
adalah temannya yang ternyata telah meningalkannya.
”sial
ditinggal gua sama cunguk-cunguk itu “ ucap doni kesal.
Doni pun pulang sendirian karena
ditinggal temannya. Sesampainya dirumah doni memasuki rumah dengan wajah lesu
terlihat sangat kelelahan.
“samlekom”
doni memberi salam.
”waalaikum
salam”jawab ibunya.
“gimana
lesnya don ?” Tanya ayahnya.
Doni
tidak menjawab dan langsung masuk ke kamar untuk berbaring. Yang ada di pikiran
doni saat itu adalah istrahat dan tidur.
”don
jangan tidur bentar lagi magrib” terdengar suara ibunya dari ruang tamu tetapi
doni tidak menghiraukannya.
“doni…”
ibunya kembali memanggilnya.
“ia… bu” doni menjawab panggilan ibunya tetapi
masih bermalas-malasan di tempat tidurnya.
Beberapa hari setelah pendaftaran itu
doni sudah mulai bisa mengikuti pelajaran walaupun hanya sedeikit. Terlebih
lagi dia memiliki lebih banyak teman tidak lagi hanya dua temennya itu.
Disekolah pun mereka bertiga lebih sering terlihat bersama. Bercanda-canda,
doni lebih sering berbicara daripada waktu dulu.